Inggris Catat Angka Kematian COVID-19 Tertinggi di Eropa

Inggris Catat Angka Kematian COVID-19 Tertinggi di Eropa – Otoritas kesehatan pada Rabu, Menyatakan bahwa setidaknya 26.097 orang telah meninggal akibat Covid-19 di Inggris, secara resmi menjadikannya negara dengan angka kematian tertinggi kedua di Eropa setelah Italia.

Itu berarti Inggris memiliki lebih banyak kematian dibandingkan negara Eropa yang terdampak parah lainnya seperti Spanyol dan Prancis. Termasuk total fatalitas, Inggris melaporkan lebih dari 165.000 kasus positif Covid-19, dengan 857 pasien yang dinyatakan sembuh.

“Kita masih melewati masa puncak pandemik dan ini adalah saat-saat yang sulit dan berbahaya,” jelas Menteri Luar Negeri Dominic Raab yang dalam beberapa pekan terakhir mewakili Perdana Menteri Boris Johnson saat menjalani masa pemulihan.

1. Inggris akan memasuki tahap kedua lockdown 

covid 19 inggris catat kematian tertinggi kedua di eropa DdQE6Jz0AU - Inggris Catat Angka Kematian COVID-19 Tertinggi di Eropa

Dalam keterangannya, Menlu Saab mengatakan kini warga Inggris terpaksa harus beradaptasi dengan apa yang dinamakan “new normal”, suatu kegiatan yang baru dan lebih terbatas menjadi bagian dari kehidupan mereka. Ia mengatakan tahap kedua dalam lockdown di Inggris tidak akan mudah.

“Kami ingin memastikan bahwa fase selanjutnya lebih nyaman dan bertahan lama. Tetapi, kita tidak perlu berada di bawah ilusi, karena fase selanjutnya tidak akan mudah.”

Berdasarkan data dari Kantor Nasional Statistik Inggris (ONS) ada 29.998 kematian akibat COVID-19. Angka itu diperoleh dari data sertifikat kematian yang dirilis dan terakhir dikeluarkan pada (24/4) lalu. Dalam data itu turut mencakup kematian yang baru sebatas diduga akibat COVID-19, termasuk mereka yang meninggal di rumah panti jompo.

Kalau dibandingkan dengan data yang diberikan oleh pemerintah pada periode itu, maka angkanya berbeda jauh. Pada (24/4) lalu, Pemerintah Inggris merilis angka kematian akibat COVID-19 mencapai 20.732. Saat itu, pemerintah tidak ikut memasukan warga yang meninggal di luar rumah sakit. Orang-orang yang meninggal di luar rumah sakit baru dimasukan ke dalam data pemerintah pada pekan lalu.

2. Pemerintah menilai tidak adil bila penanganan COVID-19 di Inggris lebih parah dibandingkan Italia 

Sementara, pengajar di Universitas Cambridge, David Spiegelhalter menilai tidak ada satu pun negara di dunia ini yang melakukan penanganan COVID-19 secara baik.

“Ini bukan kontes Eurovision dan percuma bila mencoba untuk membuat peringkat di antara negara-negara itu,” kata Spiegelhalter.

Perbandingan yang memungkinkan yakni ketika melihat semua penyebab kematian, lalu disusun sesuai dengan usia di masing-masing negara. Tetapi, itu pun kata dia, akan sulit untuk membuat penjelasan alasan adanya perbedaan di masing-masing negara.

“Belum lagi bila dibandingkan dengan jumlah tes COVID-19 yang dilakukan di Italia dengan Inggris. Persebaran pasien yang meninggal di kedua negara juga berbeda. Separuh dari jumlah pasien yang meninggal di Italia berada di Lombardy, sedangkan di Inggris, mereka tersebar,” ungkap Nick Triggle.

3. PM Boris Johnson dikritik karena telat memberlakukan lockdown 

Meningkatnya angka kematian di Inggris akibat COVID-19 memicu kritik bertubi-tubi ke PM Boris Johnson. PM Johnson dinilai lebih lambat menerapkan kebijakan karantina wilayah dibandingkan para pemimpin negara lain di Eropa. Ia baru memerintahkan lockdown pada Maret lalu.

Dalam dua hari ke depan, Johnson akan rapat dengan para ahli untuk melakukan evaluasi dari lockdown yang telah diberlakukan sejak enam pekan lalu. Para ilmuwan yang ikut rapat juga akan membawa bukti-bukti apakah lockdown sukses mengendalikan wabah COVID-19 di Inggris. Dari bukti itu lah yang dijadikan dasar bagi PM Johnson untuk mengambil keputusan selanjutnya.